Welcome Back SMI !!! Haters Apa Kabar??

“hanya orang yang berhati rendah, tulus dan cinta tanah air yang mau kembali ke negeri yang sudah mencaci dirinya”

8 hari lalu tepatnya 27 Juli 2016 ada dua kejadian yang menarik perhatian masyarakat dan media, terutama mereka yang berdomisili di Jakarta.

058330200_1469597669-Menteri_Reshuffle_Kabinet_Kerja_jilid_2

Kejadian pertama tentu adalah kocok ulang kabinet kerja yang dilakukan oleh Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. 12 menteri pun berganti, ada juga yang hanya digeser dari posisi semula dan kemudian mengisi pos yang kosong. Yang paling menarik?? tentu dipilihnya Wiranto yang konon katanya salah satu Pelanggar HAM terberat entah apa tujuan Jokowi memilih Wiranto. Hal menarik lainnya adalah kembalinya Srikandi ke Ibu Pertiwi

Ya, banyak yang menjuluki Sri Mulyani Indrawati dengan julukan Srikandi. Selain memang wanita, saya mengibaratkan beliau punya kapasitas yang sangat mumpuni di bidang ekonomi. Terlalu berlebihan? sepertinya tidak, kocok ulang kabinet sudah pernah saya tulis sebelumnya, pada saat itu nama SMI pun muncul tapi baru terwujud hari yang lalu.

SMI sangat menarik perhatian saat ini bahkan sampai saat ini pun masih sangat menarik untuk dibahas. Coba kita bayangkan, seseorang yang sudah sukses di negeri Paman Sam sebagai salah satu Direktur Bank Dunia, kembali ke negeri yang namanya dicap sebagai orang yang merugikan negara karena mencairkan uang kepada salah satu bank di Indonesia, yang dicaci maki bahkan fotonya dicoret-coret oleh masyarakat Indonesia.

Tapi dia memilih kembali ke negeri yang tak semua orang suka dia dan meninggalkan jabatan dia di Bank Dunia. Entah apa yang ada di pikiran SMI, tapi saya senang beliau kembali ke tanah air dan mengisi jabatan yang memang seharusnya dia isi dari dulu.

Sampai saat ini pun saya yakin bahwa SMI tak bersalah akan kasus Bank Century, ia hanya salah satu korban atasannya. Ia hanya menjalankan apa yang diperintahkan kepada dia.

large-sri-mulyani-6948b01f070425a5ace30f7d59c6b720-700x420

“Kadang tidak semua orang akan mengapresiasi keputusan yang kita buat. Bisa jadi ada orang yang salah paham terhadap tindakan kita. Dan bahkan keberhasilan sering datang lama setelah kita meninggalkan jabatan kita.”

Kutipan di atas adalah sebagian kecil kalimat dari pidato SMI di UI tanggal 26 Juli lalu (detik.com). Benar apa yang beliau katakan, saat SMI memutuskan ke Amerika Serikat tidak semua orang mengapresiasi keputusannya, malah ada yang menganggap kalo SMI hanya lari dari tanggung jawab.

Seiring jalannya waktu, SMI harus menjalankan agenda yang sudah disusun oleh menteri keuangan sebelumnya. Beberapa hari lalu diadakan acara untuk sosialisasi Tax Amnesty, yang datang pun ramai sekali. SMI dianggap bisa jadi magnet kuat agar banyak yang mengikuti tax amnesty. Panggung di acara itu diisi oleh Presiden Jokowi, SMI, dan beberapa tokoh lainnya. Jokowi memberi presentasi tentang pemahaman tax amnesty. Setelah Jokowi baru SMI yang memberi pemahaman. Tak jauh berbeda dengan Jokowi, SMI memberikan pemahaman tersebut.

“tugas menteri keuangan sekarang lebih ringan, karena presiden ikut membantu”

Kira-kira itu kalimat yang SMI utarakan di acara tersebut. Memang yang harus kita pahami bahwa SMI tak dapat bekerja sendiri untuk memulihkan dan membangun ekonomi Indonesia harus ada kerjasama di kabinet untuk hal tersebut, bahkan presiden pun harus turut serta. Sangat senang melihat presiden dan menterinya akur dan saling bantu sama lain.

Kejadian kedua adalah Ahok yang memilih jalur parpol daripada independen. Sesuai dengan yang pernah saya katakan bahwa Ahok pasti pilih parpol, kenapa? Ahok salah tokoh politik yang pintar melihat kondisi, ia melihat bahwa masyarakat kebanyakan sudah agak apatis dengan parpol tetapi peraturan pilkada yang mempersulit independen mau tak mau dijadikan Ahok sebagai alasan untuk maju lewat parpol.

163742-1458301888-541483

Padahal kalau Ahok berintegritas tetap maju bersama Teman Ahok, saya bisa pastikan ia akan menang Pilgub DKI. Lalu akan menangkah Ahok di Pilgub DKI setelah memutuskan maju lewat parpol? Saya memperkirakan Ahok akan tetap menang. PDIP akan menjadi partai pendukung Ahok, saya rasa Megawati tak akan mengorbankan Surabaya agar Risma jadi penantang Ahok.

PDIP hanya mencari moment, persis saat mengumumkan Jokowi jadi capres pilihan mereka.

Beberapa hari setelah Ahok mengumumkan hal tersebut, Gerindra dan PKS pun sepakat mengusung Sandiaga Uno. Dua partai ini pun rela calonnya jadi calon nomor dua di DKI Jakarta jika PDIP bergabung dengan koalisi tersebut. Sayangnya, magnet Uno tidak sekuat magnet Jokowi ketika berhadapan dengan Fauzi Bowo. Bahkan sekalipun Risma didatangkan PDIP, magnet Risma pun belom bisa mengalahkan Ahok (berita terakhir Risma sudah minta maaf ke warga Surabaya?.

Beda jika yang didatangkan adalah Walikota Bandung Ridwan Kamil, bisa jadi ada pertarungan Suden Death di Jakarta.

Berikut perkiraan saya tentang koalisi parpol di Jakarta dan saya kira hanya ada 2 calon pasang yang bertarung di Jakarta :

  1. Ahok : Nasdem, Hanura, Golkar, PDIP, PKB, Demokrat
  2. Uno : Gerindra, PKS, PPP, PAN

Benar atau tidak kita lihat dinamika politik di Jakarta. Satu hal yang pasti, Ahok harus mulai ubah cara komunikasinya, kinerja Ahok bagus tapi lebih bagus lagi kalau cara berkomunikasinya pun bagus.

Dan mengakhiri tulisan ini kita harus paham bahwa :

“Srikandi tetaplah manusia biasa yang tetap butuh bantuan orang di sekitarnya. Pintar bukan segalanya jika dia hanya sendiri, di atas pintar ada kekuatan yang melebihi kepintaran yaitu KERJASAMA”

Selamat bekerja Ibu Sri Mulyani Indrawati dan Selamat berjuang Ahok !!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s