MENILIK KENETRALAN TV

 

Rabu (18 Januari 2017) lalu, Metro TV seperti biasa menayangkan program acara unggulannya yaitu Mata Najwa. Bukan suatu yang baru juga, narasumber yang didatangkan pun tokoh yang sudah biasa ditampilkan yaitu Ir. Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Pada kesempatan itu Ahok tidak datang sendiri, selama program yang disiarkan secara langsung itu Ahok ditemani oleh wakilnya sekaligus calon wakil di Pemilukada 2017 ini yaitu Djarot Saiful Hidayat.

Menyaksikan program Mata Najwa memang mengulik pikiran sendiri sambil bertanya layakah paslon ini?? Pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan oleh Najwa Shihab selaku tuan rumah program ini pun tidak mengindikasikan bahwa paslon inilah yang didukung oleh Metro TV. Bukan suatu info terbaru bahwa banyak yang mengatakan bahwa Metro TV diindikasikan “mendukung” pemerintah dan paslon nomor dua ini.

Perhatian saya tertarik ketika Najwa Shihab bertanya mengenai kampung deret dan rekaman video janji yang diucapkan oleh Jokowi pada debat Pilgub DKI Jakarta 2012 mengenai Bukit Duri. Saat debat tersebut Jokowi yang didampingi oleh Ahok menyatakan bahwa Bukit Duri tidak perlu direlokasi tetapi hanya akan digeser saja. Najwa lantas menagih janji tersebut sama Ahok. Ahok pun menjawab pertanyaan tersebut dan menurut saya jawaban yang ia lontarkan dapat diterima secara logika. Ahok tidak menyanggah pernyataan Jokowi, ia bilang saat itu kami belum mengetahui keadaan aslinya bahwa tanah tersebut adalah milik negara, Ahok juga menyatakan memang tidak digeser tapi kami relokasi ke rusunawa sekelas apartemen (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat – Jatinegara). Ahok juga menyatakan memang ada yang dipindahkan di Rusunawa Bebek, namun Pemprov memberikan kemudahan dengan gratis naik Transjakarta. Kemudahan lainnya juga diberikan Kartu Jakarta Pintar dan Kartu Jakarta Sehat bagi masyarakat tersebut. Kampung deret memang tidak terwujud di Bukit Duri tapi di daerah lain tetap ada kampung deret.

Jawaban mengenai Bukit Duri yang tidak digeser beberapa kali diulang sama Ahok, seakan ingin memperjelas bahwa janji kampanye yang dinyatakan saat debat 2012 lalu bukanlah bohong. Najwa Shihab pun beberapa kali mempertegas pertanyaannya di mana saat debat 13 Januari 2017 di mana Ahok menyindir janji paslon lain untuk menang pemilukada DKI Jakarta 2017.

Jujur bagi saya, Ahok kena skak mat pertanyaan Najwa Shihab tersebut di mana ada janji yang tidak seperti yang diucapkan. Meskipun dapat dijawab oleh Ahok tapi terlihat bahwa Ahok berusaha keras untuk memperjelas jawabannya. Bagi saya ini moment yang penting dalam program Mata Najwa ini, selebihnya Ahok memang menunjukkan tajinya bahwa dia memang yang “menguasai” permasalahan DKI Jakarta.

Lalu apa kaitannya dengan Kenetralan TV?

Sampai saat ini saya selalu yakin bahwa tidak ada TV yang benar-benar netral terhadap kepentingan politik. Mau seperti apapun format stasiun TV tersebut bagi saya tidak ada yang bebas dari kepentingan. Padahal seharusnya TV yang termasuk penyiaran haruslah memberikan berita yang netral alias tidak berpihak, karena TV memakai frekuensi yang dimiliki oleh publik.

Melihat program acara Mata Najwa itu membuat saya percaya bahwa menghapus mindset TV tidak ada yang netral itu sulit. Mata Najwa Rabu depan (25 Januari 2017) akan mengundang paslon nomor tiga yaitu Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, pihak Mata Najwa pun mengusahakan paslon nomor satu Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni dapat hadir, namun baru pasangan nomor tiga yang bersedia hadir. Menghilangkan mindset itu berarti harus berani mempertanyakan hal-hal yang sebenarnya dapat membuat paslon tersebut diragukan janji serta kemampuannya lima tahun ke depan.

Lantas lunturkah kepercayaan saya bahwa tidak ada TV netral??? Bagi saya, pers itu tidak akan pernah lepas dari pemerintahan apalagi kepentingan politik. Sistem politik yang dipengaruhi oleh ideologi suatu negara pun turut memengaruhi sistem pers yang berada di negara tersebut.

Mungkin saya tidak akan melihat stasiun TV nya tetapi saya akan melihat program acara TV nya, dan harus saya akui Mata Najwa bagi saya program ini adalah program yang menjaga independensinya. Ditambah Najwa Shihab memang dikenal sebagai anchor yang akrab dengan banyak tokoh, ia memang kritis tapi sekali-kali pun suasana talkshow tersebut dapat cair. Saya bisa pastikan Rabu depan Najwa akan tetap kritis dan mengulik program-program dari paslon nomor tiga dan suasana pun dapat cair, karena kita ketahui Anies Baswedan cukup sering tampil di program ini.

Semakin banyak program acara talkshow atau berita yang berkualitas di suatu stasiun TV, saya yakin mindset saya pun bisa luntur dengan sendirinya.

“Ayo kita buka mata, telinga dan hati, utamakan menilai dengan nalar dan bukan emosi”

Kalimat di atas adalah sedikit kalimat yang diutarakan Najwa Shihab dalam Catatan Najwa. Sekalipun TV di Indonesia masih dipertanyakan kenetralannya, setidaknya TV dapat menjadi media yang dapat membuka mata, telinga dan hati pemerintah maupun masyarakat agar terwujud Indonesia yang aman dan sejahtera.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s