Next PIT STOP-nya Mba Nana

Kemarin sore, presenter berita dan talkshow milik Metro TV Najwa Shihab merilis sebuah foto yang menunjukkan bukan hanya gambar dirinya dia di acara Mata Najwa tetapi juga sebuah tulisan yang dikemas dengan mengambil konsep berita di surat kabar. Menggunakan konsep koran ini tidak biasanya dipakai oleh Najwa Shihab ketika mem-posting sesuatu di social media miliknya.  Biasanya mba Nana, panggilan akrabnya, di twitter biasa me-retweet dari akun twitter mata najwa ataupun akun-akun berita lainnya, selain itu biasanya postingan mba Nana di instagram juga muncul di twitter.

Beda dari biasanya, pukul 18.11 WIB, akun @NajwaShihab muncul di timeline twitter saya dengan sebuah foto dan caption “Menuju Catatan Tanpa Titik. #matanajwa #catatannajwa”.

DGs_jLYVwAAr7nx

Sumber : Twitter @NajwaShihab

Membaca dengan seksama, cukup kaget dengan tulisan dalam foto tersebut. Tetapi mencoba memahami alasan program Talkshow yang sudah terkenal itu tidak diproduksi lagi dan alasan ibu anak satu itu tidak lagi bekerja di stasiun tv yang sudah ia diami selama 17 tahun.

Memang bukan minggu ini akhir dari program Mata Najwa maupun Najwa Shihab mengakhiri kariernya di Metro TV. Tapi twitter dan instagram mba Nana “resign” seakan membuat banyak pihak belum siap untuk kehilangan program acara yang menunjukkan kualitas yang berbeda dengan program acara lainnya, apalagi tidak melihat mba Nana kembali bertanya kepada narasumber dengan tatapannya dan pertanyaan yang bisa dibilang terkadang tidak terpikirkan.

Ke mana mba Nana akan berlabuh?

Tidak ada yang tau pasti, mba Nana pun tidak memberikan konfirmasi detil tentang alasan mundur dan  hal yang akan ia lakukan setelah resign. Isu mba Nana mundur pun banyak tersebar, ada yang bilang karena terkait wawancara eksklusif dengan Novel Baswedan, di mana katanya Metro TV tidak memberikan izin untuk syuting topik tersebut dan sempat tidak boleh disiarkan di Metro TV, dan mungkin Mba Nana ingin istirahat sementara dari dunia jurnalistik. Mungkin saja mba Nana ingin fokus dengan kegiatan off air yang ia miliki, seperti yang kita ketahui bahwa mba Nana adalah duta baca Indonesia.

Apapun alasannya yang jelas mundur di saat acara tersebut mendapatkan respon yang sangat positif dari masyarakat adalah suatu penghargaan sendiri. “Mundur dengan kepala tegak dan senyum lebar”patut dilakukan oleh mba Nana.

Yang menjadi perkara adalah hilangnya program acara yang mendidik masyarakat. Di tengah serbuan sinteron India, Turki dan tentunya Indonesia, berhentinya program Mata Najwa yang sudah memiliki episode 511 memiliki kesedihan tersendiri. Paling ingat saat program ini membuat konsep debat cagub DKI Jakarta yang banyak mendapatkan atensi dari masyarakat sekitar karena memiliki debat terbaik dibandingkan debat lainnya bahkan debat yang dilaksanakan KPU sendiri.

Untitled

Sumber : Twitter @yunartowijaya

Rasanya kenangan baik lebih banyak yang ditinggalkan mba Nana selama menjadi tuan rumah Mata Najwa.

Semoga next pit stop-nya mba Nana bisa memberikan kesempatan yang luas buat mba Nana untuk berkreasi dan sekalipun mungkin saja akan mengikuti jejak rekannya dahulu Putra Nababan yang beralih ke dunia start up, saya rasa influence dari mba Nana akan tetap kita rasakan.

New Step… New Andventure.. #catatannajwaneverending

Advertisements

JOKOWI “HAMPIR” KUASAI MEDIA DI INDONESIA

697004189-perindo

Sumber : https://jakartaperindo.files.wordpress.com

Perindo resmi balik kanan !!!

Entah ada angin apa partai yang diketuai oleh Hary Tanoesoedibjo ini merubah arah haluannya, dari yang sangat keras mengkritisi pemerintahan Jokowi menjadi partai yang memutuskan untuk mendukung pemerintahan Jokowi.

Aneh? Tidak aneh, hal ini sah-sah saja di dunia politik. Jargon dalam politik yang terkenal adalah “Tidak ada teman atau musuh yang abadi dalam politik, namun yang ada adalah kepentingan yang abadi” . Kepentingan menjadi amat penting dalam dunia politik, dari kepentingan itu bisa didapatkan yang namanya kekuasaan atau setidaknya menjaga kekuasaan yang sudah dimilikinya. Ketika ada kepentingan tokoh politik di sesuatu hal tersebut, maka ia tidak segan untuk berpindah haluan demi kekuasaan.

Sangat lumrah yang dilakukan Hary Tanoesoedibjo ini, menilik ke belakang Hary Tanoe adalah seorang pebisnis sukses yang tentunya harus bisa memposisikan dirinya agar bisnis yang ia tekuni tersebut tetap aman baik di kancah nasional maupun internasional.

Berlawanan dengan pemerintahan tentunya membutuhkan mentalitas yang kuat. Mungkin ini yang menjadi salah satu alasan Hary Tanoesoedibjo melalui partai yang dipimpinnya berubah haluan. Jika benar Jokowi dua periode, bisa saja ini yang dipikirkan Hary Tanoesoedibjo bahwa cukup sulit jika 10 tahun harus beroposisi dengan pemerintahan.

Alasan lain yang berkembang adalah berkaitan dengan kasus SMS yang menimpa Hary Tanoesoedibjo. Beberapa pihak ada yang memperkirakan bahwa berpindah hatinya Perindo ke Jokowi agar kasus yang menimpa Ketua Umumnya tersebut dihentikan. Entah itu benar atau tidak, yang jelas hukum seharusnya tidak boleh diintervensi sekalipun oleh presiden sekalipun.

a986b537-bef9-466b-bf42-c349562cb64b

Sumber : Detik.com

Yang jelas masyarakat penikmat media yang berada di bawah naungan MNC Group harus mulai terbiasa dengan pemberitaan yang mungkin saja akan lebih banyak membahas kebaikan dari pemerintahan. Mungkin saja kritik akan tetap ada, tapi rasanya tidak akan sebanyak sebelum Perindo mendukung pemerintahan Jokowi.

Hary Tanoesoedibjo dikenal dengan “Raja Media” di Indonesia. Bisa dikatakan semua jenis media massa sudah ada di bawah bendera MNC Group. Media cetak, Radio, Televisi bahkan Media online juga sudah ada di MNC Group. Maka tidak heran julukan “Raja Media” pantas disematkan pada Hary Tanoesoedibjo.

1d697f4

Sumber : https://media.licdn.com

Media sebagai alat politik bukan suatu hal yang tabu lagi. Media di Indonesia saat ini hampir sebagian dimiliki oleh tokoh politik, sehingga keberimbangan pemberitaan pun tidak lagi jadi masalah yang pelik. Rasanya membahas keberimbangan media itu tidak akan menemukan titik temu. Walaupun masih tetap ada yang berusaha agar semua media massa di Indonesia ini pemberitaannya berimbang, hal ini tentunya membutuhkan proses yang tidak mudah.

Jokowi sejak tahun 2012 jelas menjadi media darling, hampir semua media memberitakannya saat itu. Jokowi dianggap sebagai tokoh politik yang berbeda dari tokoh lainnya, sehingga menjadi sesuatu hal yang baru di Indonesia. Istilah “blusukan” pun ngehits karena media massa. Namun, tidak semua pemberitaan media itu bernada positif, apalagi ketika Jokowi memutuskan untuk maju menjadi calon presiden di tahun 2014. Rasanya media di Indonesia terbelah menjadi dua kutub, yaitu kutub yang pro Jokowi dan kutub yang kontra dengan Jokowi.

Sejauh ini pun pemberitaan Jokowi di berbagai media memiliki nada yang berbeda-beda. Media yang konsisten mendukung Jokowi bisa dikatakan adalah Metro TV, media ini bahkan ada yang menjulukinya dengan “TV Pemerintahan”. Media yang lainnya juga ada yang tetap konsisten dengan politik redaksi yang dipilihnya, bahkan ada media juga yang tetap mengkritisi pemerintahan Jokowi.

Salahkah jika media mengkritik pemerintahan? Tidak. Media yang benar harus bisa menjalankan semua fungsinya termasuk fungsi pengawasan. Media yang benar harus bisa berimbang berita yang mereka buat, tidak berat sebelah. “Tidak pemerintah banget apalagi anti pemerintah banget”, semua harus BERIMBANG.

Jika melihat realitas sekarang bahwa Hary Tanoesoedibjo mendukung pemerintahan Jokowi, bisa dikatakan Jokowi secara tidak langsung “hampir” menguasai media di Indonesia. Rasanya sulit menutup mata bahwa berita di media MNC Group akan menjelekkan pemerintahan Jokowi. Setidaknya jika ada kritik, akan dikemas dengan sebaik mungkin. Hal ini tentunya sangat lumrah terjadi di Indonesia dan hal ini menjadi tiket emas Jokowi untuk meraih perhatian masyarakat melalui media massa selain melalui senjata pamungkasnnya yaitu “blusukan”.

Menarik melihat media yang tadinya jelas sangat keras mengkritisi pemerintahan, tiba-tiba sekarang mendukung pemerintahan, politik redaksi jelas juga akan ikut berubah haluan.

Sejauh ini tentunya masyarakat sangat mendambakan ada media yang benar-benar berimbang dalam hal pemberitaannya. Masyarakat juga harus terbuka matanya tentang kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh pemerintahan Jokowi. Jangan sampai media di Indonesia menjadi alat pemerintahan seperti di negara komunis. Media di Indonesia juga tidak boleh menutup mata jika pemerintah melakukan hal yang tidak sesuai dengan kepentingan rakyat banyak. Media di Indonesia sebagai pilar keempat negara seharusnya tetap harus mengkritisi pemerintah jika memang hal tersebut harus dikritisi alias bukan kritik abal.

Keberimbangan media tetap menjadi Pekerjaan Rumah bagi pemerintah, insan pers dan tentunya masyarakat.

Selamat bergabung Perindo, semoga kalimat yang terdapat di lagu mars Perindo bisa menjadi kenyataan dengan bergabungnya ke pemerintahan. “JAYALAH INDONESIA”.

WARMING UP FOR 2019

Hari ini salah satu berita yang ramai dibicarakan di media massa adalah bertemunya dua tokoh politik besar yaitu Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono akan bertemu dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Cikeas malam ini.

Apa yang akan dibicarakan?

Isu yang berkembang tentunya tentang Pemilihan Umum Presiden tahun 2019 nanti. Pertengahan tahun 2017 tentu sudah waktu yang tepat untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan politik yang akan terus berkembang sampai tahun 2019. Bahkan isu yang paling santer terdengar adalah wacana lahirnya duet “Senior dan Junior” yaitu Prabowo Subianto dengan Agus Harimurti Yudhoyono untuk maju dalam Pemilihan Umum Presiden 2019. Tentunya jika hal ini terjadi berarti dua kekuatan besar partai bergabung yaitu Gerindra dan Demokrat. Tidak bisa dipungkiri AHY bisa menjadi tokoh penyegar jika Jokowi dan Prabowo yang kembali maju. Sikap sportifitasnya saat Pilkada DKI Jakarta lalu mendapatkan apresiasi yang bagus dari masyarakat.

Terlalu terburu-burukah pertemuan ini?

Jika melihat waktu di mana 2019 sebentar lagi, maka pertemuan ini tidaklah terburu-buru. Apalagi jika kita berbicara tentang Pemilu Presiden yang berarti masyarakat yang memilih berada di seluruh Indonesia, sangat dibutuhkan waktu yang panjang untuk mengenalkan calon yang akan diusung. Ditambah lagi calon yang akan ditantang adalah petahana yaitu Joko Widodo.

Menurut pihak Demokrat yang meminta pertemuan berasal dari pihak Prabowo yang kemungkinan besar membahas tentang koalisi di tahun 2019.  Pertemuan ini menurut saya cukup dipikirkan secara panjang dan matang. Bertemunya dua kekuatan besar ini bisa menjadi sinyal bagi pihak petahana tentang calon penantangnya. Prabowo dan SBY tentu menjadi “King Maker” dalam pertemuan ini, akankah menjalin hubungan, tidak menjalin atau malah tidak ada keputusan yang diambil dalam pertemuan ini.

Isu lainnya yang berkembang mengenai pertemuan ini adalah untuk menjegal Jokowi di tahun 2019. Benarkah? Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini secara pasti. Kalaupun iya saya rasa lumrah saja, namanya kompetisi harus ada yang menang dan kalah, apalagi di dunia politik hal ini sudah hal yang biasa saja. Tentunya kita ingin muncul calon penantang petahana yang bisa menjadi pertimbangan untuk kita dalam memilih pemimpin kita 2019 nanti bukan calon tunggal.

RUU Pemilu yang dibahas minggu lalu, jika ditelaah secara dalam bisa menghasilkan calon tunggal, karena bisa dipastikan suara masyarakat akan tersebar di beberapa partai politik. Sehingga cukup sulit untuk mengusung calon sendiri tanpa berkoalisi.

Mungkin pertemuan ini menjadi salah satu antisipasi untuk menghindari calon tunggal. Koalisi menjadi satu-satunya jalan agar ada calon-calon lainnya. Ditambah lagi jika dilakukan koalisi setelah Pemilu Legislatif tentu waktu yang tersedia tidaklah lama, sehingga butuh kerja yang sangat keras agar calon tersebut dikenal dan dipilih oleh masyarakat. Berbeda jika sudah dilakukan dari sekarang, setidaknya pengenalan sudah bisa dilakukan dari jauh-jauh hari dan koalisi bisa diharapkan solid dalam mengusung calon tersebut.

Siapa calon terkuat?

Calon terkuat tentu Prabowo Subianto, tidak bisa dipungkiri Prabowo masih menjadi tokoh terkuat yang bisa melawan Jokowi. Masih hangat di ingatan kita bahwa perolehan suara antara Jokowi dengan Prabowo pada Pemilu Presiden 2014 lalu tidaklah jauh. Bahkan elektabilitas Prabowo naik tajam hampir mendekati elektabilitas Jokowi di saat akhir-akhir masa kampanye.

Di 2019 pun nama Prabowo masih menggema untuk kembali diusung menjadi calon presiden. Rasanya umur bukan jadi penghalang bagi para kader untuk mengusung Prabowo menjadi presiden.

Sikap Prabowo yang menunjukan kooperatif dengan Jokowi menjadi nilai tambah bagi dirinya di mata masyarakat. Saat ada aksi besar yang terjadi di Jakarta, Prabowo tidak menjadi tokoh pemanas tapi justru terjadi saling berkunjung antara Jokowi dengan Prabowo. Setidaknya hal yang terlihat di masyarakat ini menunjukkan bahwa sekalipun partai Gerindra menjadi oposisi dari pemerintah, dalam keadaan genting Prabowo tetap mendukung pemerintah. Sikap Prabowo inilah yang menjadi nilai tambah bagi dirinya untuk berkompetisi di 2019.

Lalu siapa pendampingnya?

Menarik membahas siapa pendamping Prabowo nanti, tapi yang jelas keputusan Prabowo untuk bertemu SBY malam ini yang diawali dengan makan nasi goreng, belum memastikan bahwa kader Demokrat lah yang akan menjadi pendamping Prabowo. Sekalipun AHY digadang-gadang bisa menjadi pendamping Prabowo, rasanya terlalu cepat untuk mengiyakan calon pasangan ini. Latar belakang keduanya yang militer sangat jarang dipilih untuk menjadi komposisi capres dan cawapres. Memang komposisi pernah ada yaitu saat Soeharto dan Tri Sutrisno menjabat. Namun yang harus kita ingat bahwa demokrasi saat ini dengan dulu sangat jauh berbeda.

Mungkin pertemuan ini memang baru untuk membicarakan tahap awal yaitu koalisi 2019 belum menentukan nama yang akan diusung. Bisa saja untuk melemparkan ke masyarakat dan melihat bagaimana respon masyarakat jika dua nama ini dijadikan satu pasangan. Kita tidak bisa memungkiri Demokrat masih menjadi partai yang memiliki kekuatan besar sekalipun terperangkap dalam beberapa kasus hukum. Jika bisa mengajak Demokrat berkoalisi, kekuatan ini cukup bisa menandingi koalisi pemerintahan (Jika nanti 2019 masih berlanjut) dan bisa dipastikan PKS akan bergabung dengan Gerindra. PKS menjadi salah satu partai yang setia dengan Gerindra sampai sekarang, begitupun dulu saat berkoalisi dengan Demokrat, PKS adalah partai yang paling setia dalam berkoalisi.

Yang jelas pertemuan malam ini tetap bisa menjadi sinyal bagi Jokowi untuk melihat penantangnya nanti di 2019. Apakah Prabowo kembali diusung? Lalu siapa pendampingnya? Ataukah tokoh yang lain justru yang diusung? Atau malah hanya sekedar silahturahmi antara para pensiunan jenderal ini.

Hanya Tuhan, Prabowo dan SBY serta beberapa kader dari masing-masing partai tersebut yang tahu.

(IN)TOLERAN di INDONESIA

Kasus intoleran yang berkembang di Indonesia membuat kita semakin sadar bahwa negara kita masih termakan dengan istilah premodial. Bahkan beberapa orang jelas menyatakan bahwa “tak apa pemimpinnya korupsi yang penting seagama”.

Salahkan statement ini? Saya akan berpendapat bahwa ini tak salah, itu hak beberapa orang untuk berpendapat, toh di negara kita ini semuanya berhak berpendapat dan ada undang-undang yang melindunginya. Tapi bagi saya sendiri, saya tidak menganut statement di atas, saya lebih suka menjadi seseorang yang berpendapat bahwa memilih pemimpin berdasarkan kemampuan dia memimpin secara benar dan kinerja dia saat memimpin.

Mengapa demikian? “Pemimpin yang benar pasti baik, tapi Pemimpin yang baik belum tentu benar”. Kita sering bertemu dengan orang baik, tapi apakah kehidupan dia benar? belum tentu, hanya Tuhan dan dia yang tau. Tapi saya yakin ketika hidup dia benar, hal itu akan terlihat dari karakter, kinerja dan perilaku dia dalam kehidupan sehari-hari.

Agama pasti membuat kita ke arah yang benar, tapi belum semua kita paham dengan ajaran masing-masing agama kita, jangan sampai kita malah jadi orang yang salah menafsirkan agama kita masing-masing.

Ya isu intoleran yang terjadi di Indonesia, membuat saya risih. Ada video anak-anak yang menjadi viral karena berteriak “Bunuh Ahok”, apakah anak kecil tersebut paham dengan istilah bunuh? apakah dia tau bahwa membunuh itu dilarang di setiap agama manapun? Ya kejadian ini sekaligus menyakiti hati banyak orang, negara yang sangat bangga dengan istilah Bhinneka Tunggal Ika menjadi negara yang keragaman tidak lagi sesuatu yang patut dihormati.

Saya berpikir bagaimana perasaan orang yang pertama kali bawa isu ini ke masyarakat dan akhirnya bukan hanya orang dewasa yang terkena isu ini tapi juga sampai ke anak kecil. Berpikirkah mereka di awal mereka membuat hal ini? Saya harap mereka berpikir, rasanya sayang jika Indonesia yang begitu indah dikorbankan oleh mereka yang pada dasarnya hanya ingin sebuah kekuasaan.

Agama itu seharusnya tidak membuat kita sensitif, justru harusnya membuat kita semakin sadar bahwa agama itu membawa kita ke arah perdamaian bukan sebaliknya. Indonesia yang saya kenal itu rukun bukan rusuh.

Semoga di bulan ramadan ini, kita lebih menjaga persatuan dan kebhinnekaan kita sebagai sebuah negara Indonesia. Hidup berdampingan secara damai lebih indah daripada hidup rusuh dengan sesama kita.

“Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala tetap dipuja-puja bangsa. Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda. Tempat berlindung di hari tua. Sampai akhir menutup mata.” – Indonesia Pusaka-

 

*Tulisan ini dibuat bukan untuk mengadu domba, tapi hanya untuk menyampaikan perasaan hati seorang Indonesia yang rindu adanya saling menghormati satu dengan lainnya. -EMH-

MENILIK KENETRALAN TV

 

Rabu (18 Januari 2017) lalu, Metro TV seperti biasa menayangkan program acara unggulannya yaitu Mata Najwa. Bukan suatu yang baru juga, narasumber yang didatangkan pun tokoh yang sudah biasa ditampilkan yaitu Ir. Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Pada kesempatan itu Ahok tidak datang sendiri, selama program yang disiarkan secara langsung itu Ahok ditemani oleh wakilnya sekaligus calon wakil di Pemilukada 2017 ini yaitu Djarot Saiful Hidayat.

Menyaksikan program Mata Najwa memang mengulik pikiran sendiri sambil bertanya layakah paslon ini?? Pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan oleh Najwa Shihab selaku tuan rumah program ini pun tidak mengindikasikan bahwa paslon inilah yang didukung oleh Metro TV. Bukan suatu info terbaru bahwa banyak yang mengatakan bahwa Metro TV diindikasikan “mendukung” pemerintah dan paslon nomor dua ini.

Perhatian saya tertarik ketika Najwa Shihab bertanya mengenai kampung deret dan rekaman video janji yang diucapkan oleh Jokowi pada debat Pilgub DKI Jakarta 2012 mengenai Bukit Duri. Saat debat tersebut Jokowi yang didampingi oleh Ahok menyatakan bahwa Bukit Duri tidak perlu direlokasi tetapi hanya akan digeser saja. Najwa lantas menagih janji tersebut sama Ahok. Ahok pun menjawab pertanyaan tersebut dan menurut saya jawaban yang ia lontarkan dapat diterima secara logika. Ahok tidak menyanggah pernyataan Jokowi, ia bilang saat itu kami belum mengetahui keadaan aslinya bahwa tanah tersebut adalah milik negara, Ahok juga menyatakan memang tidak digeser tapi kami relokasi ke rusunawa sekelas apartemen (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat – Jatinegara). Ahok juga menyatakan memang ada yang dipindahkan di Rusunawa Bebek, namun Pemprov memberikan kemudahan dengan gratis naik Transjakarta. Kemudahan lainnya juga diberikan Kartu Jakarta Pintar dan Kartu Jakarta Sehat bagi masyarakat tersebut. Kampung deret memang tidak terwujud di Bukit Duri tapi di daerah lain tetap ada kampung deret.

Jawaban mengenai Bukit Duri yang tidak digeser beberapa kali diulang sama Ahok, seakan ingin memperjelas bahwa janji kampanye yang dinyatakan saat debat 2012 lalu bukanlah bohong. Najwa Shihab pun beberapa kali mempertegas pertanyaannya di mana saat debat 13 Januari 2017 di mana Ahok menyindir janji paslon lain untuk menang pemilukada DKI Jakarta 2017.

Jujur bagi saya, Ahok kena skak mat pertanyaan Najwa Shihab tersebut di mana ada janji yang tidak seperti yang diucapkan. Meskipun dapat dijawab oleh Ahok tapi terlihat bahwa Ahok berusaha keras untuk memperjelas jawabannya. Bagi saya ini moment yang penting dalam program Mata Najwa ini, selebihnya Ahok memang menunjukkan tajinya bahwa dia memang yang “menguasai” permasalahan DKI Jakarta.

Lalu apa kaitannya dengan Kenetralan TV?

Sampai saat ini saya selalu yakin bahwa tidak ada TV yang benar-benar netral terhadap kepentingan politik. Mau seperti apapun format stasiun TV tersebut bagi saya tidak ada yang bebas dari kepentingan. Padahal seharusnya TV yang termasuk penyiaran haruslah memberikan berita yang netral alias tidak berpihak, karena TV memakai frekuensi yang dimiliki oleh publik.

Melihat program acara Mata Najwa itu membuat saya percaya bahwa menghapus mindset TV tidak ada yang netral itu sulit. Mata Najwa Rabu depan (25 Januari 2017) akan mengundang paslon nomor tiga yaitu Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, pihak Mata Najwa pun mengusahakan paslon nomor satu Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni dapat hadir, namun baru pasangan nomor tiga yang bersedia hadir. Menghilangkan mindset itu berarti harus berani mempertanyakan hal-hal yang sebenarnya dapat membuat paslon tersebut diragukan janji serta kemampuannya lima tahun ke depan.

Lantas lunturkah kepercayaan saya bahwa tidak ada TV netral??? Bagi saya, pers itu tidak akan pernah lepas dari pemerintahan apalagi kepentingan politik. Sistem politik yang dipengaruhi oleh ideologi suatu negara pun turut memengaruhi sistem pers yang berada di negara tersebut.

Mungkin saya tidak akan melihat stasiun TV nya tetapi saya akan melihat program acara TV nya, dan harus saya akui Mata Najwa bagi saya program ini adalah program yang menjaga independensinya. Ditambah Najwa Shihab memang dikenal sebagai anchor yang akrab dengan banyak tokoh, ia memang kritis tapi sekali-kali pun suasana talkshow tersebut dapat cair. Saya bisa pastikan Rabu depan Najwa akan tetap kritis dan mengulik program-program dari paslon nomor tiga dan suasana pun dapat cair, karena kita ketahui Anies Baswedan cukup sering tampil di program ini.

Semakin banyak program acara talkshow atau berita yang berkualitas di suatu stasiun TV, saya yakin mindset saya pun bisa luntur dengan sendirinya.

“Ayo kita buka mata, telinga dan hati, utamakan menilai dengan nalar dan bukan emosi”

Kalimat di atas adalah sedikit kalimat yang diutarakan Najwa Shihab dalam Catatan Najwa. Sekalipun TV di Indonesia masih dipertanyakan kenetralannya, setidaknya TV dapat menjadi media yang dapat membuka mata, telinga dan hati pemerintah maupun masyarakat agar terwujud Indonesia yang aman dan sejahtera.

Welcome Back SMI !!! Haters Apa Kabar??

“hanya orang yang berhati rendah, tulus dan cinta tanah air yang mau kembali ke negeri yang sudah mencaci dirinya”

8 hari lalu tepatnya 27 Juli 2016 ada dua kejadian yang menarik perhatian masyarakat dan media, terutama mereka yang berdomisili di Jakarta.

058330200_1469597669-Menteri_Reshuffle_Kabinet_Kerja_jilid_2

Kejadian pertama tentu adalah kocok ulang kabinet kerja yang dilakukan oleh Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. 12 menteri pun berganti, ada juga yang hanya digeser dari posisi semula dan kemudian mengisi pos yang kosong. Yang paling menarik?? tentu dipilihnya Wiranto yang konon katanya salah satu Pelanggar HAM terberat entah apa tujuan Jokowi memilih Wiranto. Hal menarik lainnya adalah kembalinya Srikandi ke Ibu Pertiwi

Ya, banyak yang menjuluki Sri Mulyani Indrawati dengan julukan Srikandi. Selain memang wanita, saya mengibaratkan beliau punya kapasitas yang sangat mumpuni di bidang ekonomi. Terlalu berlebihan? sepertinya tidak, kocok ulang kabinet sudah pernah saya tulis sebelumnya, pada saat itu nama SMI pun muncul tapi baru terwujud hari yang lalu.

SMI sangat menarik perhatian saat ini bahkan sampai saat ini pun masih sangat menarik untuk dibahas. Coba kita bayangkan, seseorang yang sudah sukses di negeri Paman Sam sebagai salah satu Direktur Bank Dunia, kembali ke negeri yang namanya dicap sebagai orang yang merugikan negara karena mencairkan uang kepada salah satu bank di Indonesia, yang dicaci maki bahkan fotonya dicoret-coret oleh masyarakat Indonesia.

Tapi dia memilih kembali ke negeri yang tak semua orang suka dia dan meninggalkan jabatan dia di Bank Dunia. Entah apa yang ada di pikiran SMI, tapi saya senang beliau kembali ke tanah air dan mengisi jabatan yang memang seharusnya dia isi dari dulu.

Sampai saat ini pun saya yakin bahwa SMI tak bersalah akan kasus Bank Century, ia hanya salah satu korban atasannya. Ia hanya menjalankan apa yang diperintahkan kepada dia.

large-sri-mulyani-6948b01f070425a5ace30f7d59c6b720-700x420

“Kadang tidak semua orang akan mengapresiasi keputusan yang kita buat. Bisa jadi ada orang yang salah paham terhadap tindakan kita. Dan bahkan keberhasilan sering datang lama setelah kita meninggalkan jabatan kita.”

Kutipan di atas adalah sebagian kecil kalimat dari pidato SMI di UI tanggal 26 Juli lalu (detik.com). Benar apa yang beliau katakan, saat SMI memutuskan ke Amerika Serikat tidak semua orang mengapresiasi keputusannya, malah ada yang menganggap kalo SMI hanya lari dari tanggung jawab.

Seiring jalannya waktu, SMI harus menjalankan agenda yang sudah disusun oleh menteri keuangan sebelumnya. Beberapa hari lalu diadakan acara untuk sosialisasi Tax Amnesty, yang datang pun ramai sekali. SMI dianggap bisa jadi magnet kuat agar banyak yang mengikuti tax amnesty. Panggung di acara itu diisi oleh Presiden Jokowi, SMI, dan beberapa tokoh lainnya. Jokowi memberi presentasi tentang pemahaman tax amnesty. Setelah Jokowi baru SMI yang memberi pemahaman. Tak jauh berbeda dengan Jokowi, SMI memberikan pemahaman tersebut.

“tugas menteri keuangan sekarang lebih ringan, karena presiden ikut membantu”

Kira-kira itu kalimat yang SMI utarakan di acara tersebut. Memang yang harus kita pahami bahwa SMI tak dapat bekerja sendiri untuk memulihkan dan membangun ekonomi Indonesia harus ada kerjasama di kabinet untuk hal tersebut, bahkan presiden pun harus turut serta. Sangat senang melihat presiden dan menterinya akur dan saling bantu sama lain.

Kejadian kedua adalah Ahok yang memilih jalur parpol daripada independen. Sesuai dengan yang pernah saya katakan bahwa Ahok pasti pilih parpol, kenapa? Ahok salah tokoh politik yang pintar melihat kondisi, ia melihat bahwa masyarakat kebanyakan sudah agak apatis dengan parpol tetapi peraturan pilkada yang mempersulit independen mau tak mau dijadikan Ahok sebagai alasan untuk maju lewat parpol.

163742-1458301888-541483

Padahal kalau Ahok berintegritas tetap maju bersama Teman Ahok, saya bisa pastikan ia akan menang Pilgub DKI. Lalu akan menangkah Ahok di Pilgub DKI setelah memutuskan maju lewat parpol? Saya memperkirakan Ahok akan tetap menang. PDIP akan menjadi partai pendukung Ahok, saya rasa Megawati tak akan mengorbankan Surabaya agar Risma jadi penantang Ahok.

PDIP hanya mencari moment, persis saat mengumumkan Jokowi jadi capres pilihan mereka.

Beberapa hari setelah Ahok mengumumkan hal tersebut, Gerindra dan PKS pun sepakat mengusung Sandiaga Uno. Dua partai ini pun rela calonnya jadi calon nomor dua di DKI Jakarta jika PDIP bergabung dengan koalisi tersebut. Sayangnya, magnet Uno tidak sekuat magnet Jokowi ketika berhadapan dengan Fauzi Bowo. Bahkan sekalipun Risma didatangkan PDIP, magnet Risma pun belom bisa mengalahkan Ahok (berita terakhir Risma sudah minta maaf ke warga Surabaya?.

Beda jika yang didatangkan adalah Walikota Bandung Ridwan Kamil, bisa jadi ada pertarungan Suden Death di Jakarta.

Berikut perkiraan saya tentang koalisi parpol di Jakarta dan saya kira hanya ada 2 calon pasang yang bertarung di Jakarta :

  1. Ahok : Nasdem, Hanura, Golkar, PDIP, PKB, Demokrat
  2. Uno : Gerindra, PKS, PPP, PAN

Benar atau tidak kita lihat dinamika politik di Jakarta. Satu hal yang pasti, Ahok harus mulai ubah cara komunikasinya, kinerja Ahok bagus tapi lebih bagus lagi kalau cara berkomunikasinya pun bagus.

Dan mengakhiri tulisan ini kita harus paham bahwa :

“Srikandi tetaplah manusia biasa yang tetap butuh bantuan orang di sekitarnya. Pintar bukan segalanya jika dia hanya sendiri, di atas pintar ada kekuatan yang melebihi kepintaran yaitu KERJASAMA”

Selamat bekerja Ibu Sri Mulyani Indrawati dan Selamat berjuang Ahok !!!

Huru Hara Online

“Yang dapat bertahan bukanlah yang kuat, tetapi yang mampu beradaptasi” -Charles Darwin-

Kemarin banyak orang yang ramai membicarakan tentang demonstrasi yang dilakukan awak supir taksi konvensional. Mereka melakukan demo tersebut karena mereka menganggap bahwa kehadiran transportasi online mengancam kehidupan taksi konvensional, pendapatan mereka menurun hampir 50% setiap harinya.

Demo-Taxi-Di-Gatsu-696x400

Demonstarsi yang dilakukan kemarin pun bukan yang pertama namun sudah kedua kalinya. Namun demo kemarin rasanya yang paling heboh, dikarenakan mereka anarki dan cenderung brutal.

Salahkah transportasi online??

Saya sangat setuju dengan pidato yang disampaikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang kebetulan juga kena imbasnya dari demonya para supir taksi konvensional. JK menyatakan bahwa ada satu hal yang sulit dilawan yaitu “TEKNOLOGI”, ya benar majunya teknologi sulit dibendung dan yang menjadi salah satu akibatnya adalah munculnya banyak aplikasi berbasis internet yang sangat mempermudah konsumen untuk mendapatkan sesuatu yang diingininya.

Sebenarnya banyak bidang yang sudah terkena imbas dari majunya teknologi dan banyaknya aplikasi online. Contoh nyata adalah belanja, dulu konsumen harus pergi ke departement store, pasar, supermarket untuk membeli sesuatu. Sekarang? tinggal mengklik Lazada, Tokobagus, Tokopedia, dll konsumen sudah dapat barang yang diingini tanpa harus bepergian dan mengeluarkan ongkos untuk kendaraan.

Contoh lainnya adalah bidang pers, munculnya media online yang sangat update dalam suatu kejadian menjadikan media cetak kehilangan pangsa pasarnya. Oplah menjadi turun, apalagi biaya produksi media cetak dengan media online sangat jauh bedanya.

Banyak lagi bidang lainnya yang sangat tergeser karena adanya internet, namun yang saya lihat adalah perusahaan yang mulai tergeser ini perlahan mulai beradaptasi untuk memanfaatkan aplikasi berbasis internet. Matahari salah satu departement store di Indonesia mulai menjalani aplikasinya yaitu Mataharimall.com, ataupun media cetak Kompas, mereka memilih untuk menjadikan koran harian mereka dalam bentuk e-paper sehingga masyarakat tidak perlu lagi beli koran Kompas dalam bentuk kertas tapi bisa diakses dengan internet di mana isinya sama dengan koran dalam bentuk kertas.

Lalu apa yang terjadi dengan transportasi online? Mereka tidak salah, mereka hanyalah para pengusaha yang kreatif untuk membuat suatu lapangan kerja baru di mana banyak orang yang diuntungkan. Mengapa saya bilang ini menguntungkan? tidak hanya pengusaha yang untuk tapi para supir maupun konsumen pun merasa diuntungkan. Mudahnya mendapatkan transportasi tanpa harus jalan terlebih dahulu, biaya yang sudah tau terlebih dahulu, sistem pembayaran pun bisa tunai ataupun non tunai. Supirpun tidak perlu keliling jalan untuk mendapatkan konsumen sehingga biaya bensin pun lebih murah.

ojek online

Perlu diperhatikan bahwa transportasi online ini tidak berbentuk taksi, saya lebih melihatnya adalah mobil rental yang dipakai oleh konsumen, sehingga wajar kalau mereka mempunyai tarif yang lebih murah. Memang perusahaan transportasi online ini harus dibuat regulasinya sehingga mereka berbentuk badan hukum dan tentunya membayar pajak kepada daerah. Tidak lupa kenyamanan dan keamanan kendaraan yang dipakai sebagai kendaraan pun harus sesuai dengan syarat kelayakan suatu kendaraan.

uber-grab-car-20150811

Bagaimana dengan taksi konvensional?

Saya merasa para supir taksi konvensional ini terlalu rajin, mengapa? Seharusnya para manajemen perusahaan tersebutlah yang lebih berjuang untuk berbicara kepada pemerintah bukan para supirnya. Manajemen perusahaan seharusnya lebih kreatif untuk bertahan dalam persaingan ekonomi di era ini, bukan malah hanyut dan diam serta masih memakai cara lama dalam menjalankan perusahaan tersebut.

Blue Bird dan Express bisa dikatakan dua perusahaan taksi yang paling dipercayai oleh masyarakat, apakah dua perusahaan ini pernah didemo oleh taksi konvensional lainnya karena dianggap menguasi taksi di Jakarta? Setau saya belum ada yang demo dua perusahaan tersebut. Lalu mengapa sekarang ketika terdapat saingan dua perusahaan ini seperti kalang kabut dan parahnya para supirlah yang bergerak menuntut agar transportasi online diatur. Kemana para manajemennya?

Hari ini manajemen Blue Bird menggratiskan biaya taksi reguler di daerah Jadetabek, mungkin mereka ingin kembali mendapatkan rasa percaya konsumen terhadap Blue Bird. Memengaruhikah? tidak terlalu memengaruhi bagi saya, karena kejadian kemarin lebih banyak menghasilkan rasa antipati daripada empati. Masyarakat Jakarta sudah pintar dalam memakai logikanya, sekalipun mereka hari ini memakai Blue Bird keesokan harinya belum tentu, karena balik lagi yang menentukan adalah selera konsumen. Siapa yang tidak senang jalan di Jakarta memakai Blue Bird dan itu gratis?? Setelah normal, konsumen akan lebih memilih lagi transportasi yang murah tetapi nyaman.

Bagaimana solusinya?

Baiknya pemerintah segera memastikan perusahaan transportasi online ini berjalan sesuai dengan regulasi yang ada atau membuat regulasi baru yang mengatur mengenai transportasi online. Harus segera jangan ditunda lagi, Kemenhub, Pemprov DKI, Kemenkominfo harus sinergi dalam mengatur ini semua.

Taksi konvesional? Manajemen perusahaan baiknya beradaptasi dengan kemajuan teknologi sekarang, jika memang sudah ada aplikasi segera sebar ke masyarakat ditambah penyesuaian harga karena harga BBM yang sudah turun. Kreatif dalam meraih pangsa pasar, ingat konsumen suka dengan yang murah tapi dapat fasilitas yang sama dengan yang mahal.

Tranportasi online? Segera mengurus untuk berbadan hukum dan teruslah berkreasi, serta lebih baik lagi dalam memberikan yang terbaik bagi para konsumen, jangan hanya memikirkan untung tetapi juga kenyamanan dan kemanan bagi para konsumen.

Dalam mencari rezeki tidak perlu anarkis, rezeki itu sudah ada yang mengatur kalaupun sekarang menurun itu tandanya harus lebih giat lagi dalam mencari rezekinya.

 

-ini hanya pendapat saya sebagai penikmat transportasi online tetapi masih mempercayai taksi konvensional-

LAMPU HIJAU UNTUK AHOK

Pemilihan Gubernur DKI Jakarta setahun lagi…..

jelang-pilgub-dki-jakarta-2017-selengkapnya-ada-di-sini-rev-2

Sumber : merdeka.com

Kemarin berita yang begitu banyak diangkat adalah tidak majunya Ridwan Kamil menjadi calon Gubernur DKI Jakarta pada PILGUB 2017 nanti. Setelah cukup lama tidak memberikan keputusan untuk maju atau tidak, akhirnya kang Emil menyatakan untuk fokus dan menyelesaikan masa jabatannya sebagai Walikota Bandung yang masih tersisa dua tahun lagi.

Screenshot_2016-03-01-13-55-19-1

Sumber : Instagran Ridwan Kamil (@ridwankamil)

Berita baik untuk pendukung Ahok? Saya rasa iya, memang elektabilitas dan popularitas kang Emil masih jauh di bawah Ahok, namun apa yang tidak mungkin. Dulu ketika kang Emil diusung oleh Gerindra dan PKS untuk menjadi calon Walikota Bandung, survei awal hanya menunjukkan 6% untuk kang Emil, namun apa yang terjadi ketika hari H pencoblosan? Kang Emil menang dan sampai sekarang kang Emil masih sangat dielu-elukan oleh warga Bandung.

Kang Emil salah satu pejabat yang sangat dekat dengan warganya, keluwesan beliau di media sosial pun wajib diacungi jempol. Kang Emil sangat komunikatif, bahkan media sosial selain dijadikannya sebagai tempat memberitahu program-program yang pemprov Bandung lakukan tetapi juga sebagai tempat untuk bersenda gurau dengan para netizen di media sosial tersebut. Uniknya beberapa hari sebelum kang Emil memutuskan untuk tidak maju sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta, kang Emil mem-post sebuah gambar di akun Instagramnya untuk bertanya “Perlukah saya maju pilgub DKI 2017?”. Postingan kang Emil pun banyak ditanggapi oleh netizen, tidak hanya oleh warga Bandung tetapi juga oleh warga di luar Bandung, sampai hari ini sudah ada 31.658 comment yang diberikan oleh netizen.

092546200_1447732692-afgan04

Sumber : Showbiz.liputan6.com

Screenshot_2016-03-01-13-55-06

Sumber : Instagram Ridwan Kamil (@ridwankamil)

Jika saya lihat kebanyakan netizen memang menghendaki kang Emil untuk tetap di Bandung dan lebih memilih untuk maju dalam PILGUB Jawa Barat ataupun tahun 2019 untuk maju sebagai calon presiden Indonesia. Bahkan setelah melakukan konfrensi pers yang menyatakan beliau tidak maju, kang Emil juga banjir pujian, netizen banyak yang komen bahwa kang Emil adalah pemimpin yang amanah, yang tidak haus kekuasaan.

Beberapa media juga melakukan interview by phone dengan kang Emil untuk meminta penjelasan lebih lanjut tentang keputusan yang sudah ia buat. Menariknya kang Emil menyatakan bahwa memang ada kesempatan namun saya memilih untuk tidak mengambil kesempatan itu dan memutuskan untuk fokus serta menyelesaikan masa baktinya sebagai Walikota Bandung. Ditanya soal kesempatan untuk maju pada Pilgub Jawa Barat atau Pilwakot Bandung, kang Emil menjawab akan melihat survei dulu baru membuat keputusan.

Kejadian ini semakin meyakinkan saya bahwa kang Emil pasti maju di Pilgub Jabar nanti dan kang Emil pasti menang jika selama dua tahun ini tidak ada hal yang membuat dia jatuh terpuruk. Kang Emil terkenal di Jawa Barat, bahkan saya lebih mengenal kang Emil daripada Gubernur Jabar yang tengah menjabat sekarang (pak Aher). Kemajuan kota Bandung yang begitu signifikan tentu membuat kang Emil begitu dielu-elukan. Dari tata kota, infrastruktur sampai birokrasi pun Bandung sangat mengalami kemajuan.

Hal ini menjadi angin segar bagi pendukung Ahok, di tengah mengumpulkan 1 juta KTP untuk Ahok, kabar ini tentunya membuat mereka yakin bahwa Ahok bisa kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta sampai 2022. Kang Emil menjadi calon pesaing terkuat Ahok jika tadinya kang Emil benar mencalonkan dirinya sebagai calon Gubernur DKI Jakarta. Bukan menyepelekan calon lainnya, tetapi rasanya kita harus rasional bahwa tokoh  seperti Ahmad Dhani, Yusril Ihza Mahendra, Adhayksa Dault, Sandiaga Uno belumlah mampu menandingi Ahok.

Bagi masyarakat Jakarta yang sudah melek politik dan rasional dalam memilih sesuatu, pasti akan lebih mengutamakan hasil kinerja dan bukan sekedar popularitas saja. Kinerja Ahok selama menjabat menurut saya sudah cukup bagus, banyak hal yang ia buat, kalaupun banyak yang bilang itu untuk pencitraan saya rasa tidak. Contoh penggusuran warga Bukit Duri, kalau memang mengejar popularitas untuk apa Ahok harus menggusur mereka, jelas kita tahu bahwa warga Bukit Duri tidak sedikit tapi banyak, tentunya bisa berpengaruh terhadap popularitas Ahok. Namun hal itu tetap ia lakukan, ia tak peduli berapa orang yang tidak suka sama dia asalkan Jakarta bisa bebas banjir.

ahok-serahkan-payung-hukum-apbd-ke-dprd

Sumber : jarakkata90.wordpress.com

Hal lainnya yang bisa kita rasakan adalah banjir di Jakarta sudah mulai berkurang, biasanya bulan Januari atau awal Februari banjir sudah mengepung Jakarta, media ramai-ramai memberitakan tentang banjir tersebut. Sekarang? ini sudah awal Maret namun hanya beberapa daerah saja yang terkena banjir, itupun segera surut dan karena memang air sungai yang meluap. Kali-kali di beberapa daerah juga sudah dibersihkan, pembangunan tanggul juga sudah dilakukan, ditambah dengan adanya pasukan oranye yang siap siaga jika ada genangan air mereka akan segera menindak lanjuti agar genangan air tersebut segera hilang.

Macet? ini memang masih menjadi momok bagi Jakarta, tetapi tidak hanya diam, Ahok banyak membangun fasilitas umum agar masyarakat Jakarta tidak lagi menggunakan kendaraan pribadinya. MRT, LRT, Transjakarta tingkat, Pembangunan jalan layang dan masih banyak lagi yang tentunya belum bisa kita rasakan sekarang tapi bisa kita rasakan di tahun-tahun berikutnya. Bahkan Ahok menyatakan selama kepemerintahan saya Jakarta akan semakin macet, tapi setelah pembangunan selesai Jakarta bisa tidak macet lagi.

Pekerja melakukan aktivitas pembangunan jalur bawah tanah (terowongan) Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta, Rabu (29/4)

Pekerja melakukan aktivitas pembangunan jalur bawah tanah (terowongan) Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta, Rabu (29/4). Menurut Project Manager Elevated Construction Heru Nugroho proses pengerjaan MRT secara keseluruhan sudah mencapai 15 persen dimana untuk proyek jalan layang (elevated) pengerjaan baru mencapai 12 persen sementara pengerjaan jalan bawah tanah sudah mencapai sekitar 21 hingga 22 persen. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ed/Spt/15

XxpSy6KqXG

Sumber : cdn.metrotvnews.com

Birokrasi? Jakarta sudah semakin baik birokrasinya, sekarang tidak perlu lama semua serba cepat. Setiap info yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta pun dapat bisa dipantau oleh masyarakat melalui website pemprov DKI. Semakin baiknya birokrasi juga menekan angka korupsi di Pemerintahan DKI Jakarta. Sampai sekarang kasus UPS tetap dilanjutkan, tinggal menunggu saja pihak-pihak yang memang bertanggung jawab atas penyalahgunaan dana UPS ini.

Rasanya kinerja Ahok untuk Jakarta yang lebih baik ini akan terus bisa dilanjutkan jika melihat peta persaingan di PILGUB 2017. Ahok sangat bisa menang, apalagi orang-orang yang mengumpulkan KTP untuk Ahok sudah 600 ribu lebih KTP. Ahok tinggal memilih tetap memilih untuk independen atau memilih untuk didukung oleh partai politik. Sejauh ini baru NasDem yang terang-terangan mendukung Ahok dalam Pilgub 2017, namun Ahok sendiri belum tergoda untuk menerima tawaran NasDem untuk maju lewat dukungan partai.

Sudah sepantasnya pemimpin muda yang baik tersebar di seluruh daerah Indonesia. Ahok di Jakarta, kang Emil di Jawa Barat, Tri Rismaharini di Jawa Timur, Ganjar Pranowo di Jawa Tengah dan saya sangat yakin akan ada banyak tokoh muda yang terus mengembangkan daerah di Indonesia untuk lebih maju lagi. Indonesia bisa hebat jika daerah di Indonesia juga maju.

ganjar-pranowo-ahok-ridwan-kamil-julian

Sumber : poskotanews.com

 

cagubdki

Sumber : image.iyaa.com

STIGMA HIV AIDS

 

Desember

1 Desember : Hari AIDS Sedunia

hari ini 1 Desember selalu diperingati sebagai hari AIDS sedunia, dari tahun ke tahun selalu diperingati tetapi selalu naik juga jumlah orang yang terkena HIV AIDS ini. Penyakit ini menjadi salah satu penyakit yang merenggut banyak orang, apalagi gejala-gejala terkena penyakit ini tidak terlalu terlihat pada awalnya.

pergaulan bebas menjadi salah satu penyebab menyebarnya penyakit ini. pergaulan bebas itu bisa berupa free sex, narkoba, dan lain-lain. kadang beberapa orang tidak tersadari terkena penyakit ini, baru mereka sadari ketika mereka melakukan pemeriksaan.

menurut data yang dikutip dari Tribunnews.com, sejak tahun 1995 sampai 2015 ini sudah 809 orang menderita HIV/AIDS dan dalam rentang waktu Januari hingga Juni 2015 penderita AIDS masih didominasi oleh ibu rumah tangga yang mencapai 16 orang, enam di antaranya adalah Pekerja Seks Komersial (PSK).

mengapa ibu rumah tangga?? menurut berita ini dikarenakan para suami yang suka “jajan. ya memang tidak bisa dihindari free sex menjadi momok yang luar biasa dalam kehidupan ini. free sex tidak hanya dilakukan oleh para pria atau wanita dewasa tapi juga dilakukan oleh para remaja. parahnya lagi terlihat hanya mementingkan kepuasan batiniah tanpa melihat dengan siapa melakukannya. tanpa disadari ternyata sudah tertular dan ada yang menularkannya ke pasangan sebenarnya tanpa disadari sebelumnya.

pemakaian jarum suntik pada pemakaian narkoba juga bisa menyebabkan HIV AIDS ini. saat ini pemakai narkoba sudah sangat banyak, bisa dibayangkan jika para pemakai tersebut memakai jarum suntik yang sama untuk mengonsumsi narkoba, apalagi jika para pemakai narkoba tersebut ada yang sudah mengidap HIV AIDS.

sebenarnya penyakit HIV AIDS ini bisa dicegah dengan tidak melakukan free sex dan tidak mengonsumsi narkoba serta menjalankan kehidupan yang normal-normal saja. namun bagi yang sudah terkena yang bisa dilakukan adalah meminum obat yang dianjurkan oleh kementerian kesehatan dan tetap menjalankan kehidupan yang baik, tidak lagi melakukan hal-hal yang bisa menyebarkan penyakit ini ke orang lain.

HIV AIDS ini sudah menjadi masalah sosial di Indonesia, namun seperti tidak dianggap serius oleh pemerintah. ini yang harus diubah oleh pemerintah, memang saat ini pemerintah tengah fokus untuk memperbaiki kehidupan ekonomi Indonesia. namun pemerintah juga tidak boleh lengah dalam menangani kasus HIV AIDS ini, penanganan free sex dan pencegahan narkoba harus semakin digencarkan agar tidak ada lagi yang terkena HIV AIDS.

pemerintah juga harus peduli terhadap orang-orang yang sudah terkena HIV AIDS ini. banyak orang yang sudah terkena penyakit ini menganggap hidupnya sudah selesai, tetapi ada juga orang-orang yang tetap berjuang dan menjalani kehidupannya seperti biasa. bahkan masih ada yang tetap bekerja layaknya orang sehat. hal ini seharusnya yang pemerintah dan keluarga terdekat tanamkan bagi orang-orang yang terkena HIV AIDS.

ada pernyataan yang menyatakan bahwa salah satu obat untuk sembuh adalah semangat hidup. ya memang jika dalam diri pribadi tersebut ada semangat untuk sembuh pasti ada keinginan untuk melakukan sesuatu yang bisa membuat ia melupakan penyakitnya dan menjalani kehidupan secara normal.

bagaimana kita yang tidak terkena??? stigma untuk menjauhi orang yang terkena HIV AIDS adalah sangat salah seharusnya kita tetap merangkul dan tetap menganggap mereka layaknya orang yang biasa. HIV AIDS tidak menular melalui udara seperti flu atau batuk, HIV ADIS juga tidak menular melalui air ludah, gigitan, bersin, berbagi perlengkapan mandi, handuk atau peralatan makan, memakai toilet atau kolam renang yang sama, digigit binatang atau serangga seperti nyamuk.

jadi mari hilangkan stigma bahwa orang yang terkena HIV AIDS harus kita jauhi, yang benar adalah jauhi penyakitnya bukan orangnya. kita yang tidak terkena juga bisa menjadi teman cerita atau kita bisa membuat suatu kelompok kecil atau mengajak mereka ikut dalam komunitas yang mengatasi masalah HIV AIDS ini untuk berbagi cerita agar orang-orang yang terkena HIV AIDS tidak merasa sendiri karena penyakit tersebut.

semoga di tahun depan ketika kembali memperingati hari AIDS sedunia ini ada kabar baik bahwa orang-orang yang terkena HIV AIDS telah menurun dan pemerintah bisa menangani masalah sosial ini.

selamat hari AIDS sedunia….

 

sumber :

http://www.alodokter.com/hiv-aids/penyebab/

http://www.tribunnews.com/regional/2015/12/01/perlu-keseriusan-pemerintah-untuk-menanggulangi-masalah-aids

MENAKAR KETULUSAN HATI MKD

novvvv-564acb40747e614b0885f63f

Sumber : http://assets-a2.kompasiana.com/items/album/2015/11/17/novvvv-564acb40747e614b0885f63f.jpg?t=o&v=760

Setya Novanto, Ketua DPR RI kembali tersandung masalah. Kalau beberapa bulan lalu ia tersandung kasus karena hadir dalam konfrensi pers calon Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Kali ini ia tersandung kasus “Papa Minta Saham”, tergelitik hati ini ketika mendengar dan melihat transkrip dan rekaman pembicaraan yang katanya melibatkan Setya Novanto dengan pihak Freeport. Banyak hal diucapkan di sana termasuk private jet, golf dan ada hal lainnya yang diucapkan dalam transkrip tersebut.

Hal ini kemudian dilaporkan oleh Menteri ESDM Sudirman Said ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD), pihak yang dilaporkan adalah Setya Novanto. Kapasitas Sudirman Said yang melaporkan ini karena Freeport menjadi salah satu pihak yang bekerja sama dalam bidang sumber daya mineral. Ditambah lagi tidak hanya Freeport yang diminta saham tapi juga ada Pertamina yang diminta saham oleh pihak yang katanya Setya Novanto.

Kasus ini pun mencuat ke ranah publik, rakyat seolah-olah seperti tidak mau kecolongan untuk kedua kalinya mengenai Setya Novanto. Kasus kehadirannya di konfrensi pers Donald Trump selesai disidangkan hanya menghasilkan teguran kepada Setya Novanto dan Fadli Zon. Petisi-petisi di change.org pun digagas oleh orang-orang yang menginginkan sidang MKD dilakukan secara terbuka. Pengamat politik di sosial media twitter pun ikut mendukung dengan menggunakan tagar (#) sidang terbuka MKD.

Namun ketulusan MKD dalam melakukan sidang Setya Novanto dipertanyakan, sidang hari Selasa lalu (24/11) dilakukan secara tertutup. Ditambah mengejutkannya lagi ada beberapa anggota MKD yang diganti dari beberapa partai politik tersebut. Pergantian ini katanya adalah suatu hal yang biasa. Namun menjadi tidak biasa ketika dilakukan saat sidang yang begitu banyak menyita sorot mata publik, walaupun yang mengganti anggota tersebut adalah parpol pengusung pemerintah.

ef84d8a3-fd49-47ae-b364-678793af82c1_169

Sumber : Detik.com

Jika dilihat dari komposisi MKD jumlah tokoh yang berada di MKD dari Koalisi Indonesia hebat (KIH) berjumlah delapan orang, Koalisi Merah Putih tujuh orang dan dari partai yang di luar dua koalisi ini berjumlah dua orang (Partai Demokrat). Tapi walaupun jumlah orang dari parpol pengusung pemerintah lebih banyak nyatanya belum bisa mengubah sidang MKD menjadi terbuka.

Oleh karena itu pantas rasanya kita pertanyakan ketulusan MKD dalam menyelesaikan kasus ini. Ada beberapa kabar yang mengatakan bahwa MKD menerima pendapat dari beberapa ahli hukum yang baru muncul namanya. Beberapa talkshow di media juga mulai mempertanyakan sidang yang dilakukan MKD, kredibilitas MKD juga dipertanyakan.

Sampai saat ini justru yang diusut beberapa orang di MKD adalah legalitas dari Sudirman Said dalam melaporkan kasus ini. Aneh, karena seharusnya MKD fokus pada kasus pencatutan presiden, wakil presiden dan Luhut Panjaitan bukan hal-hal lainnya yang diusut oleh MKD. Maka wajar rakyat mulai meragukan MKD ini, karena terlihat seperti tidak tulus dalam mengusut hal ini.

Semoga MKD benar-benar menjadi tempat yang benar untuk melaporkan etika yang tidak baik dari Setya Novanto karena telah mencatut nama presiden, wakil presiden, bahkan Luhut Panjaitan. Ditambah lagi ada kata-kata yang meminta saham kepada dua perusahaan yaitu Freeport dan Pertamina.

Di luar MKD ini, saya melihat kemungkinan skenario di balik kasus ini :

  1. Pembersihan di DPR
  2. Mengganti Ketua DPR dengan wajah yang baru, mungkin tokoh Golkar versi Munas Ancol. Sekaligus menggoncang KMP yang pastinya mendukung Setya Novanto agar tetap berada di posisi tersebut.
  3. Menggoyang posisi Luhut Panjaitan karena dianggap terlalu ambil peran yang terlalu banyak dalam pemerintahan
  4. Menjadikan Sudirman Said layaknya Budi Waseso pada hal Pelindo II yang membuat posisi Budi Waseso digeser dari Kabareskrim menjadi Kepala BNN.

Ingat ini hanya pemikiran saya, dan semoga pemikiran saya yang terjadi adalah poin satu di mana dilakukan pembersihan pada lembaga dewan perwakilan kita sekarang ini tanpa harus ada intervensi dari pihak manapun.